Para ibu dan bapak guru anak usia dini tercinta...
Siapapun kita, pasti merasa syukur dan bahagia,
Ketika kita dirindukan anak murid kita saat libur. Bahkan sampai ada yang menangis karena kangen dengan guru.
Ketika ada anak-anak murid kita tidak mau pindah sekolah, karena tidak mau pisah dari gurunya.
Bukan tak pernah ditegur. Bukan tak pernah dimarahai oleh guru.
Hanya saja, mungkin metode pendidikan dalam guru memberikan perhatian dan bimbingan kepada anak murid, berbeda dari yang lain.
Merawat sukma, menyentuh hati.
Kasih sayang pada porsi yang dibutuhkan, menumbuhkan kedamaian dalam jiwa anak manusia...
Semoga kita menjadi guru yang dirindu...
(Siapayangmenaburbenihiaakanmenuai)
CERITA AKU ANAK HEBAT Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum! Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....
Komentar
Posting Komentar