Langsung ke konten utama

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua.

Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat.

Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain.

Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua.

Rasa benci dan sakit hati tersebut kadangkala menjadikan lupa bersyukur untuk berterimakasih kepada orang tua yang telah mengasuh dan mendidiknya sedari kecil hingga ia dewasa.
Apalagi dijaman sekarang. Keasyikan anak bercerita dengan teman, ia curhat tentang perlakuan orang tua yang tidak disukainya, bahkan ada yang curhat di medsos.

Akal sehatnya hilang, bahwa jasa orang tua yang telah mengantarkan ia sampai dewasa, hilang sekejap hanya karena nasehat orang tua yang tidak disukainya baik cara maupun isi nasehatnya. Jika dipikir dengan akal sehat, padahal kawan hanya bertemu sesaat, yang tidak akan berkumpul selamanya, mau berkawan jika keadaan sedang menyenangkan. Namun jika kondisi tidak baik, kawan akan menjauh. 

Atau jika curhat di medsos. Netizen dari berbagai penjuru, lebih banyak belum mengenal siapa, darimana, bagaimana dan kapan, lalu mereka mengetahui keburukan orang tua dari curhatan anaknya. Akhirnya nama buruk orang tua tersebar kemana-mana. 

Ada lagi yang curhat atau mencari solusi dengan para ahli. Anak merasa tidak sependapat dengan orang tua. Anak dan orang tua merasa masing-masing merasa benar. Padahal orang tua adalah manusia biasa yang wajar jika terdapat kesalahan selama mendidik anak. Faktanya anak dibesarkan dengan banyak perjuangan dilakukan oleh orang tua. Bahkan setiap orang tua sampai kapanpun akan mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk anaknya. 

Sedangkan mikul dhuwur juga berasal dari dua kata yaitu mikul yang berarti mengangkat, dan dhuwur artinya tinggi sekali. Arti secara bahasa adalah mengangkat tinggi-tinggi.

Maksudnya adalah bagaimanapun keadaan orang tua, profesinya sebagai apapun tetap harus dihormati dan dimuliakan. Atas jasa yang tak kenal lelah, yang terus berjuang memberikan yang terbaik untuk anaknya. Orang tua akan mengerjakan dan melakukan apapun agar dapat melaksanakan kewajiban sebagai orang tua. Ia mengalah tidak makan, yang penting anaknya tidak kekurangan, dapat tumbuh sehat, aman dan selamat. Anaknya bisa mendapatkan pendidikan lebih baik, dan anaknya kelak bisa hidup lebih baik dari orang tua, serta menjadi anak berbakti, berguna bagi keluarga dan sesama. 

Profesi orang tua sebagai apapun, mereka tulus dan ikhlas menjalani. Meski sebagai buruh tani, tukang angkat, tukang becak, tukang ojek, atau pekerjaan serabutan, berharap dapat mengantarkan anak-anak dapat berhasil dalam hidup mereka kelak

Maka dari itu wajiblah bagi anak untuk berbakti dengan menjaga nama baik orang tua. Membalas jasa orang tua tidak harus dengan membayar uang bulanan, tidak harus membelikan rumah atau barang mewah. Jika memang anak mampu demikian, silakan. Namun jika perjalanan hidup belum mengizinkan, dan anak belum mampu membalas jasa berupa materi, balaslah jasa orang tua dengan doa, dengan bahasa yang santun, sering bertegur sapa meski hanya mengucap salam, menjaga nama baik orang tua dengan selalau berbuat baik kepada siapa pun. Berakhlak mulia, sopan santun, menunjukkan tanggungjawab dan kejujuran dalam bekerja serta menghormati dan menghargai orang lain, terutama kepada saudara atau kerabat.

Demikian pentingnya berbakti kepada orang tua hingga seorang anak harus mendem jeru mikul dhuwur. Berbakti kepada orang tua dalam agama Islam menduduki tempat yang tinggi sesudah menyembah kepada Allah. Sebagaimana tersebut dalam Al-quran surat Al-Isra ayat 23, yang artinya:
(Al-'Isrā'):23 - Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

(Al-'Isrā'):24 - Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Surat Luman 
Luqman:13 - Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Luqman:14 - Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

(Al-Baqarah):83 - Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Selain dalam Alquran, juga dijelaskan dalam sunnah Nabi Saw. Diantaranya adalah:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه سألتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قلتُ يَا رسولَ الله أَيُّ العملِ أفضَلُ قال الصلاةُ على مِيْقاتِها قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قال ثُمَّ بِرُّ الوالِدَيْنِ قلتُ ثُمَّ أَيٌّ قال الجِهادُ في سبيلِ اللهِ

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Amr ra, ia bercerita, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan, ‘Aku datang kepadamu untuk berbaiat hijrah dan kutinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis. Rasul menjawab, ‘Pulanglah, buatlah keduanya tertawa sebagaimana kau membuat mereka menangis,’’” (HR Abu Dawud).

Artinya, “Dari Muawiyah bin Jahimah As-Sulami, Jahimah ra mendatangi Nabi Muhammad saw dan berkata, ‘Aku ingin berperang bersamamu dan aku datang untuk meminta petunjukmu.’ Rasul bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai ibu?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Lazimkanlah ibumu karena surga berada di bawah telapak kakinya,’” (HR An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).


Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Hanya dengan memahami ajaran agama yang benar lah yang mengantarkan seseorang dapat mengerti tugas dan tanggung jawab sebagai anak berbakti dan memuliakan orang tua. 
Tak kan pernah bertemu pendapat para ahli sekalipun jika tidak menjadikan agama sebagai pedoman dalam berbakti kepada orang tua. Yang ada kepuasan batin sesaat, kelapangan dada sesaat, merasa diri benar, namun pada akhirnya fitrah agama jua yang akan membuatnya puas dalam hidup atau sebaliknya. 

Tulisan ini terkait dengan peristiwa yang terlihat pada hari Jumat, 16 Januari 2026.

Alhamdulillah, maturnuwun, terimakasih kepada bapak dan ibu, mbah putri, mbah Ali, yang memberi nasehat sejak kecil, dan diulang saat SD, SMP, juga saat sudah berkeluarga, tentang mendhem jeru mikul dhuwur. Semoga Allah senantiasa mencurahkan ampunan dan rahmat untuk beliau. Juga mas saya almarhum dalam foto di atas bersama bapak dan ibu saya. Amiiin...🤲🥰🙏

18 Januari 2026. 20.53 WIB 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...