Kitab Diri : Kitab yang Bergerak di Hati
Selalu bersyukur dan berbahagia bukan karena hidup selalu ramah,
melainkan karena hati telah belajar menerima sebagai bentuk tertinggi dari iman.
Syukur bukan reaksi setelah memperoleh,
tetapi kesadaran sebelum menilai.
Ia adalah mata yang melihat bahwa apa pun yang hadir
datang bukan tanpa izin,
bukan tanpa maksud,
bukan tanpa kasih.
Dalam menjalankan setiap peran yang hadir pada diri kita
sebagai anak, orang tua, sahabat, pekerja, atau pejalan sunyi
kita tidak sedang memainkan sandiwara,
melainkan sedang dihadirkan.
Dan setiap peran adalah amanah,
bukan untuk dibanggakan,
tetapi untuk dijalani dengan penuh hadir.
Setiap langkah kaki yang kita ayunkan di bumi ini,
sesungguhnya adalah jejak dzikir.
Jika langkah itu diiringi prasangka baik,
ia menjadi keberkahan yang berjalan.
Bukan tanah yang memberkahi langkah kita,
tetapi kesadaran dalam melangkah
yang membuat tanah pun ikut bersujud.
Maka jangan biarkan su’udzhan bersemayam di hati
bukan hanya kepada Tuhan,
tetapi juga kepada diri sendiri.
Sebab prasangka buruk kepada diri
adalah tirai halus yang menutup cahaya Ilahi
yang sedang bekerja melalui hidup kita.
Bangunlah pemikiran positif
bukan sebagai sugesti kosong,
melainkan sebagai adab batin.
Karena pikiran adalah pintu,
dan prasangka adalah kuncinya.
Ke mana kunci itu diputar,
ke sanalah kehidupan mengalir.
Prasangka baik bukan berarti menolak luka,
melainkan memeluk maknanya.
Ia membuat kita berkata dalam diam:
“Jika ini datang, maka aku sanggup.
Jika ini terjadi, maka ada hikmah
yang sedang belajar menemukan bentuknya.”
Kitab diri kita sesungguhnya sedang ditulis setiap saat.
Ia tidak dicetak di langit,
tetapi bergerak di dalam dada.
Setiap pikiran adalah kalimat.
Setiap rasa adalah tinta.
Setiap pilihan adalah halaman yang terbuka.
Apa yang tertanam di alam bawah sadar,
doa yang kita ucapkan sadar atau tidak
doa baik dari orang lain,
bahkan getaran rasa yang kita pelihara,
semuanya ikut menggerakkan halaman demi halaman
dari kitab kehidupan ini.
Dan ketahuilah,
tidak ada halaman yang terbuka secara kebetulan.
Ia terbuka karena keselarasan batin.
Maka arahkanlah segalanya ke arah yang baik.
Bukan dengan memaksa hasil,
tetapi dengan menjernihkan niat.
Bukan dengan melawan arus,
tetapi dengan menyucikan prasangka.
Ketika prasangka baik menetap,
hidup pun melunak.
Takdir tidak lagi terasa menekan,
melainkan menuntun.
Pada akhirnya,
yang berjalan bukan hanya kaki,
yang hidup bukan hanya raga,
yang membaca bukan hanya akal
tetapi Kesadaran itu sendiri
sedang membaca diri-Nya
melalui dirimu.
Komentar
Posting Komentar