Ketika pencarian harus dihadapkan dengan berbagai pilihan.
Diriku tertunduk, tanpa ada sedikitpun kemampuan
Ketakberdayaanku dalam pandangan
Keterbatasanku dalam pendengaran
Kerapuhanku dalam fikiran
Kekeluanku dalam ucapan
Kelemahanku dalam tindakan
Memaksaku untuk sadar
Aku masih dititipi secuil perasaan
Rasa yang membuatku mau
Rasa yang membuatku rindu
Rasa yang membuatku ingin bertemu
Rasa yang membuka mata hatiku
Benarkah aku?
(Saat daku di rantau... sahabat.... saudara... masa lalu takkan kembali. Bercengkrama, bertegur sapa, berbagi suka duka, canda dan tawa, bergelora dalam dada)
CERITA AKU ANAK HEBAT Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum! Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....
Komentar
Posting Komentar