Langsung ke konten utama

Ramadhan

Bulan Ramadhan.
Bulan penyingkap rahasia.
Bulan menajamkan mata batin bagi seorang muslim.
Bulan menguatkan aqidah, sebagai landasan ibadah.

Allah Maha kuasa, mencipta makhluk lengkap dengan segala bentuk dan dinamikanya.
Alam dicipta untuk manusia yang menggunakan akalnya. Yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Yang memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Seraya berdoa, ya Tukan kami, tiadalah Kau ciptakan semua ini sia-sia.

Satu sisi, kehidupan manusia nampak dalam suasana keluarga bahagia, segala urusan lancar, perjalanan karir mulus, anak-anak cantik, gagah, sukses, berkecukupan, segala ada. Berpangkat, jabatan tinggi bak raja, semua orang mengelu-elukannya. Serba wah, rumah, kendaraan, pakaian, asesories dan kebutuhan serba mewah. Sehingga orang lain pun menghayal betapa bahagia hidup mereka.  

Satu sisi, ada keluarga yang kekurangan, hari ini bekerja mencari sesuap nasi, hari ini habis, belum tahu apa yang akan dinikmatinya untuk esok hari. Jangankan untuk membeli mainan anak, pakaian, atau keperluan pokok rumah tangga yang agak pantas. Untuk makan saja masih harus berpikir dan berjuang.

Satu sisi, ada keluarga yang nampaknya hidup pas-pasan. Dengan jumlah anggota keluarga yang masih membutihkan perhatian. Harus sekolah dengan segala kebutuhannya. Seragamnya, biaya transportasinya, juga kebutuhan alat tulis dan buku pelajarannya. Mereka berysaha siang malam, hujan panas, ada yang sebagai petani, buruh, penjaja makanan kecil, pedagang sayur, nelayan yang hanya mendapat ikan seadanya, buruh kasar, dan pembantu rumah tangga yang kadangkala dimarahi juragannya.

Satu sisi, ada yang keluarga yang satu keluarga memiliki kekurangan berupa keterbelakangan mental. Tidak mampu berpikir normal sebagaimana orang lain pada umumnya. Makan jika disediakan, berganti pakaian jika diarahkan, itupun jika ada orang lain yang memberi sumbangan, mandi atau mencuci rambut barangkali tak terpikirkan.

Satu sisi, ada  seseorang yang tak sempurna secara fisik baik kekurangan anggota tubuh, tidak bertangan dan tidak berkaki, atau ada bertangan tanpa kaki, atau bertangan berkaki hanya sebelah, ada yang pendengaran kurang sempurna, ada yang tak mampu melihat alam semesta, bahkan ada yang lumpuh otaknya, namun masih memiliki semangat hidup dan kemampuan secara akal dan spiritual.

Satu sisi ada keluarga diuji dengan ayah, atau ibu, atau anak, atau saudara yang sakit parah dalam waktu lama belum mendapatkan kesembuhan. Ada yang telah menghabiskan banyak harta usaha pengobatan belum juga diberi kesembuhan. Ada yang telah berjuang mencari kesembuhan; dengan banyak menghabiskan harta, waktu, tenaga, perasaan dan pikiran, namun usahanya ternyata berakhir dengan meninggal dunia.

Satu sisi, ada keluarga yang bahagia berkumpul dengan orang-orang yang dicintai, yang dikasihi, namun satu demi satu, jika sampai ajalnya orang-orang yang dikasihi pergi tak kembali.

Satu sisi ada seseorang yang mengalami tekanan dalam usaha, persaingan bisnis, menjadi korban kebencian, fitnah dan tuduhan, pembunuhan karakter, pembunuhan karir, terpuruk, depresi, bahkan ada yang masuk rumah sakit jiwa.

Ada seseorang yang hidupnya biasa-biasa saja, sederhana, tenang, tanpa gejolak, apa adanya. Berusaha sekuatnya, tak peduli seheboh apapun dunia, namun ia masih dapat memberi jalan keluar saudaranya, damai keluarganya, ia mampu menyimpan apa yang dalam dirinya.

Ada seseorang yang tiba-tiba diuji dengan sakit yang mendadak dan baru ketahuan penyakit gawat. Dengan kuasa Allah SWT, ia masih diberi kemampuan dan kekuatan menjalaninya.
Dengan tetap bermohon, berusaha, dan yakin bahwa Allah maha kuasa  semua yang dicipta tiada yang sia-sia.

Ramadhan...
Bulan sabar, bulan syukur, bulan ikhlas, bulan ridho. Bulan penuh ampunan.
Bulan berbagi, bulan saling mendoakan.
Semoga Allah memberi kesabaran, kekuatan, keikhlasan, kesembuhan, jalan keluar, kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi kehidupan.

Ramadhan, bulan kembali kepada Allah SWT. Bulan mempersiapkan diri dalam kehidupan yang tumakninah, istiqamah, menuju ridho dan berkah.

9 April 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...