Langsung ke konten utama

Tarbiyah Islamiyah

3 April 2021 di FB.
Copas.
Copas.

Tarbiyah Islamiyah diperlukan untuk mengubah kebodohan, keterbelakangan, penipuan, dan keburukan lainnya. Secara bahasa, tarbiyah berasal dari kata rabbaba-rabbaya-yurabbiya, yang artinya 'memperbaiki sesuatu dan meluruskannya.'
Kata Ar-Rabbu yang ditujukan pada Allah SWT berarti pengajar, pendidik. Simak firman-Nya, "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.'' (QS Al-Baqarah [2]: 31).
Istilah itu bisa pula berarti Pencipta dan Pemelihara sebagaimana Allah SWT berfirman, ''Segala puji bagi Allah, Pencipta dan Pemelihara semesta alam.'' (QS Al-Fatihah [1]: 2).
Dalam proses pendidikan dan pengajaran, tarbiyah memiliki pengertian menyampaikan sesuatu menuju kesempurnaan dan dilakukan secara berkesinambungan sepanjang kehidupannya. Tarbiyah Rasulullah SAW kepada para sahabatnya merupakan potret paling ideal.
Ini dibuktikan dengan lahirnya generasi unggul yang sulit dicari bandingannya, seperti Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat besar lainnya.
Rahasia sukses tarbiyah Rasulullah SAW terletak pada nilai istiqamah, disiplin dalam menjaga amanah, dan universal dalam fungsional. ''Maka, istiqamahlah (kamu) sebagaimana aku perintahkan." (QS Asy-Syura [42]: 15).
Sahabat Abu Umrah Sufyan bin Abdillah berkata, ''Aku bertanya, ya Rasulullah katakanlah padaku ucapan dalam Islam yang aku tak akan bertanya lagi pada seseorang selain engkau?'' Rasulullah SAW menjawab, ''Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.'' (HR Muslim). Disiplin dalam amanah, terlihat bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang bisa dipercaya (amanah) dalam kondisi apa pun. Hal ini pula, diakui oleh kawan maupun lawan beliau.
Dalam perjalanan hidupnya, sejak masih kanak-kanak, dewasa hingga diangkat menjadi Rasul, beliau terkenal sebagai orang jujur. Maka, karena kejujurannya dalam perkataan dan perbuatan, beliau diberi gelar al-amin, orang yang dapat dipercaya.
Sedangkan universal dalam fungsional tergambar bahwa Rasulullah SAW selain sebagai seorang pendidik, juga sebagai seorang bapak yang penyayang dan pemberani. Beliau merupakan figur yang sempurna dalam iman, ilmu, dan amal. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan ) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...