Langsung ke konten utama

Ombak dimalam hari


OMBAK DIMALAM HARI

Alhamdulillah...
Seingatku kali ini minggu kelima bermalam di sini. Ditepian pantai Padang perkampungan transito ulak karang.
Malam terasa sunyi. Namun di ruang kamar yang luas ini, putaran kipas angin gantung di atas lantai aku berada, masih bergemuruh. Kipas berputar bagai tiada henti. Menyejukkan gerah keringat meski malam hari. Maklum, kota tepi pantai.
Segemuruh itu putaran kipas angin, ternyata tak mampu mengalahkan gemuruh debur ombak tepat di belakang rumah didepan rumah tempat tinggalku saat ini.
"BYUR! BYUR! BYUR!
Berulang dan berulang.
"Duh! Kok penduduk di sini nggak khawatir atau takut ya?" Tanyaku dalam hati.
Menurut cerita tuan rumahku, ternyata, dulu lebih banyak lagi rumah di dekat pantai ini.
Masih ada perumahan satu gang lagi. Tapi sekarang sudah tiada, karena dihempas ombak perlahan dan pasti.
Nah, tinggallah gang yang sekarang ini. Tepat di depan rumah ini.
Gang ini masih aman. Apalagi setelah dipasang tumpukan batu besar yang berjejer sekita pantai padang ini. Disamping untuk menahan agar tidak sampai ke perumahan penduduk, juga sekaligus untuk memecahkan ombak, agar jangan sampai meluncur menghempas perumahan.
MasyaAllah... kok tenang dan beraninya ya masyarakat disini. Hatikupun masih bersuara. Sungguh ALLAH yang menjadikan hati hamba untuk kuat dan berani dalam menjalani hidup ini.
Para orang tua dan anak-anak di sini pun hidup rukun dan damai. Seakan tiada cemas dan khawatir dengan apa yang mungkin bisa terjadi. Doa keselamatan untuk mereka.
Sementara, aku masih sering terbayang saat ada berita para penduduk didekat pantai yang berlarian, berbondong-bondong mencari tempat yang lebih jauh dan tinggi, saat mendengar tentang tsunami.
Alhamdulillah... kuasa ALLAH, penduduk masih selamat hingga saat ini. Akupun masih dan bisa beristirahat di sini.
Di Transito Ulak Karang Padang.
Debur ombak itu masih kudengar.
"BYUR! BYUR! BYUR!
Bahkan seakan mirip dentuman yang mendebarkan.
 22 april 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...