7 april 2014
Indahnya mencermati beragam peristiwa di tengah masyarakat. Sebagai seorang ibu dengan keterbatasan mendidik anak, tentu berharap pendidikan dr guru di sekolah bisa lebih baik & lebih bermakna. bukan hanya mengasah otak, tapi juga keterampilan hidup sehari-hari. Terlebih lagi merawat kesucian hati dan kejernihan jiwa. Memberi kebebasan memilih ide yang diminati anak, dengan tetap mengarahkan jika memang diperlukan. Menghargai kelebihan anak, serta memperbaiki dan memotivasi kekurangan anak. Karena manatahu, kemampuan anak yg jitu masih tersimpan, yg kelak tiba saatnya akan muncul untuk menggoncangkan dunia. Namun tetap menjaga kedamaian, karena sadar sbg wakil Tuhan dimuka bumi.
CERITA AKU ANAK HEBAT Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum! Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....
Komentar
Posting Komentar