Langsung ke konten utama

Orang aneh, temennya ya orang aneh

Dunia ini, panggung sandiwara
Kegilaan dan keanehan bisa terjadi kepada siapa saja
Kujumpai dinamika seperti ini
Lucu... asyik juga... anggap aja kita pemain... keren kan?
Begini ceritanya...

Kemanjaanku, keluguanku, keceriaanku, semua dihadirkan sebagai lembaran dalam dinamika hidupku.
Pernah ada goncangan dalam rumah tanggaku. Tanpa sebab apa yang aku tak tahu. Kaget, sedih kecewa, hampir putus asa. Itu pasti.
Padahal, aku berharap suamiku yg soleh, ALLAH memberi. Alhamdulillah...
Aku berharap, dicukupkan dan diberkahi dalam semua, ALLAH memberi. Alhamdulillah....
Aku berharap anak2 dan keluarga yang baik, ALLAH memberi. Alhamdulillah...
Namun ternyata tak semulus itu.
Aku diuji dengan kecerewatanku. Maklum, ibu-ibu.... kebabyakan begitu...
Aku berharap bisa bicara dan sering konunikasi dengan suamiku. Sebagai tambatan hidupku. Anak-anak, pada jauh. Mereka menuntut ilmu.
Tapi itu jarang terjadi. Karena kesibukan beliau...
Kalau dipikir, gak sayang aku? Gak mungkin.
Benci aku? Gak mungkin.
Dan pertanyaan lain yang ada. Jawabannya, gak mungkin.
Tapi ini terjadi. Berarti, gak ada yang gak mungkin.
Sampai sampai, berbagai aktivitas kuikuti saat ini, karna itu yang kudapat saat ini. Tapi ya sekedar komunitas. Gak ada yg special.
Itu kuanggap hiburan. Karena yaaa... aku masih butuh temen. Untuk menyegarkan pikiran, daaaan... menghibur hati..
Tapiiiii....
Ternyataaaa...
aku masih butuh seseorang yang bisa kupercaya. Bisa menjaga dan bisa mengingatkanku jika aku jatuh atau kepleset.
Kenapa orangnya jauuuuuuh??
Kenapa orangnya bodoh??
Kenapa aku dicuekin?
Aku kan gak ganggu??
Aku  kan gak jahaaaaat??
Mungkin dia berpikir aku gila. Aku gak berguna. Aku sia sia.
Biarlah... kusadar...
Aku harus sabar....
Tapi... kok gak hilang-hilang?
Kenapa dia, dia, dia dan dia teruuuusss?
sebanyak ini orang disekelilingku, tak ada yang kutuju sebagai teman...
Karena itu tak mungkin.
Kenapa hatiku cuma percaya sama diaaaaaa?
Oooh.... penderitaan yang tak kunjung padam.
Karena ulahku sendiri.
Karena aku tak syukur.
Karena aku tak sabar.
Tapi harus gimana lagi?
Ooh.... Robbyyy....
Aku cuma mau berteman sama orang bodoh ituuuuu..
Atau, Kau bunuh diriku Tuhan?
Hanya kepada Ilahy semua kembali.
(Pilih-pilih cari teman untuk keselamatan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...