Langsung ke konten utama

REJEKI PAGI HARI

 REJEKI PAGI HARI





Alhamdulillah, selalu kuucapkan terimakasih kepada siapapun yang membahagiakan ibu. Semoga ALLAH membalas kebaikannya. Aamiiin.

Dokter yang baik, sabar dan telaten. 

Sedari awal kemarin memberikan pilihan. 

"Ibu akan dioperasi hari ini atau Kamis?"

Mengingat dan menimbang harus mengulang daftar dan perjalanan, kasihan ibu. Maka diputuskan Selasa bakda dzuhur.

Tepat jam 2 siang ibu mendapat panggilan untuk mengganti busana dan masuk ruangan. Lalu masuk dalam ruangan utk menunggu giliran operasi. Lebih kurang jam 4, sesudah adzan asar, dua ananda datang membawa perlengkapan, dan ibu keluar dari ruangan operasi. Alhamdulillah... ibu selamat.

Kamipun menginap. 

Kak perawat menyerahkan obat minum untuk ibu, saat kami melewati meja yang tadinya untuk periksa darah dan tensi.

Setelah kami masuk kamar inap, seorang kakak mengantar menu berbuka dan sahur yang harus dibubuhi  tanda tangan sebagai tanda hak pasien telah ditunaikan. 

Ibu cerita pengalaman saat operasi. Akupun dengan senang hati mendengar cerita ibu. Kuanggap sebagai obat setitik kecewaku, karena tidak boleh mendampingi ibu operasi.


Lalu, perawat laki-laki mengontrol dan memberi obat membuka dan menutup perban mata kepada ibu datang sesudah isya. Ia pun mengatakan, mgkin dokter akan mengontrol ibu bakda subuh.

Setelah tarawih, Ibu masih melanjutkan cerita tentang kesan sabar dan baiknya kinerja pak dokter. Ibu bilang mata dikasih kawat halus. Aku penasaran. "Ah, mana mungkin, ya?" Pikirku.


Saat sahur, perawat yang lain mengantarkan obat untuk diminum ibu.  Alhamdulillah... semua sabar dan baik. Ibu bahagia.


Hari ini masih pagi. Mentaripun belum keluar dari peraduan. Salam sang dokter telah terdengar.

Lalu sang perawat datang berkabar, bahwa dokter telah pun tiba.

Ibu teringat, lebih 1 jam ibu dioperasi. Ternyata, kata pak dokter, ibu operasi plastik tepat dikelopak, di jahit tepat ditempat tumbuh bulu mata. Aku minta mengambil gambar mata ibu. Dokterpun megijinkanku.


Ada ilmu yang beliau sampaikan saat menerangkan obat untuk suster Weni. Obat tersebut tidak ada di tempat suster bekerja. "Dokter terbaik." Itulah julukan dokter tersebut.

Dokter membagikan ilmu dan pengalaman sedikit, namun sangat berarti bagiku.

Kata ibunya yang bidan bayangan, eh ternyata, ingin jadi bidan, tidak jadi. Maka dilampiaskan kepada anaknya agar jadi dokter. 

He he... lucu tapi nyata. Ini takdir. 

Semua telah ditetapkan.


Dokter bilang, BPJS dibayarnya 3 bulan sekali. Begitu juga dokter yang bekerja di tempat itu.

Sebisa mungkin silahkan membantu orang jika mampu. 

Jangan bekerja asal bapak senang.

Berikan pelayanan yang baik.

Mencari orang baik dan benar saat ini tidak mudah. Meskipun berkedok berilmu agama.

Menjadi guru harus hati-hati. Karena membentuk manusia.

Apalagi guru TK. Utamakan belajar agama. Karena semakin ke depan selanjutnya, pelajaran agama semakin berkurang. Bahkan mungkin akan dihapuskan.

Karena ada yang berpendapat lebih baik menonton.... dari pada belajar agama. (Hemmm... Naudubillah)


Kami jadi diskusi indah. Untuk membangun insan mulia yang menjalankan agama.

Dokter keren. Ilmiah dan agamis. 

Pilihan berikutnya, "ibu akan kontrol tanggal 11 atau 18? Kami nurut bagaimana sebaiknya.  "18 aja ya?" InsyaAllah...

Tak lupa beliau menawarkan no pribadi jika ingin konsultasi kesehatan mata dan surat rawat ibu.

Terimakasih, pak dokter... telah menebar aroma insan mulia, menjadikan ibu bahagia, berbagi kekayaan yang tiada terkira. Ilmu dan pengalaman.

Inilah rejeki pagi hari yang luar biasa.

Moga ALLAH limpahkan balasan karunia berlipat ganda. Aamiiin...

#dokterkerendanberakhlak#


29 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...