Langsung ke konten utama

Sandiwara


Sandiwara dalam sebuah perusahaan.
Seseorang bercerita sekilas padaku. Namun mendorongku menulisnya disini.
Abis, lucu banget sih.
Cerita seseorang menunjukkan apa yang dirasa. Tapi, apa yang dirasakan tak semuanya diceritakan. Karena itu juga tergantung, bagaimana dan siapa yang mendengar.
Kedewasaan dan kematangan seseorang terlihat dari bagaimana menghadapai keadaan yang dihadapi.
Apalagi dalam menjalankan tugas dalam sebuah perusahaan berkelas. Konon keuntungan bersih tiap tahun lumayan besar. karena produksinya telah dikenal dan terjual di mancanegara. 
Waaah... beneran nih?
Sebagai seorang office boy, ia harus menjalankan apa yang menjadi tuntutan dari atasan.
ternyata, bukan atasan saja. ia juga selalu diawasi oleh pengawas perusahaan. apa sih namanhya, lupa.
Yang menggelikan adalah, sebenarnya atasan yang lebih tahu. karena hari-hari dari datang hingga pulang, tentu atasan yang lebih tahu.
Namun, ternyata pengawasnya yang lebih berperan.
Jadi, kasihan bangeeet itu office boy. 
tapi, yaaach... lucu aja. kok bisa.
Satu lagi, ada yang berpesan, bahwa, "kalau cari karyawan, biar bodoh, yang penting bisa diatur".
Loh.... kuaget aku ndengernya.
kalau ada apa-apa nanya sama office boy. maklum, pengalaman beda. karena office boy udah pernah jadi pelakon di rumah makan, ada pabrik, ada di toko, dan lain lain.
Kalu ini gimana? itu giman?
Kalau gak ngasih tahu, katanya gak loyal. Aneh to? piye to iki?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...