Langsung ke konten utama

Pembelajaran Kreatif di PAUD (TK)

Pembelajaran Kreatif di PAUD (TK)

Assaalamu alikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam kenal, salam silaturrahmi,
Teman-teman guru PAUD ...
Kita semua ingin memberikan pembelajaran yang selalu semangat. Menarik bagi guru, terutama bagi murid.
Sekedar ingin berbagi, jika teman-teman yang  lupa, atau ingin mencoba.
Pembelajaran kreatif ini saya dapat saat ikut lokakarya IGTKI se-Sumbar di MIFAN Padang Panjang.


KREATIF

1.    Pembelajaran yang kratif mempunyai makna, tidak sekedar malaksanakan dan menerapkan acuan kurikulum
2.    Kreatif dalam implementasi kurikulum
3.    Kreatif dalam memanfaatkan sumber belajar
4.   Kreatif dalam menggunakan metode dan pendekatan belajar
5.    Kreatif dalam mengembangkan kompetensi dasar
6.   Kreatif dalam menejemen kelas, pembelajaran
7.    Kreatif dalam memanfaatkan lingkungan , sebagai sumber, bahan dan sarana untuk belajar
8.   Lingkungan fisik bisa berupa lingkungan alam dan gejala alam
9.   Lingkungan sosial merupakan segala perilaku manusia dan hubungannya dengan manusia lain, maupun terhadap lingkungannya

PEMBELAJAR AN KREATIF DALAM PERMAINAN ULAR TANGGA
indikator:
a.     Senang bermain dengan teman
b.      Mentaati aturan permainan
c.       Melakukan 3-5 perintah secara beraturan dengan benar
d.     Mengekspresikan gerak dengan iringan musik/lagu.
e.      Membilang / menyebutkan urutan bilangan dari  1-10
f.       Mewarnai bentuk gambar sederhana
g.     Berlari sambil melompat dengan seimbang tanpa jatuh


Pembelajaran kreatif dalam kegiatan memasak
Indikator:
a.   Melakukan kegiatan yang bermanfaat pada saat dibutuhkan
b.   Meu berbagi denga teman
c.   Berani bertanya secara sederhana
d.   Mengungkapkan asal  mula terjadi sesuatau
e.   Menunjuk lambang bilangan 1-10
f.   Menciptakan berbagai bentuk yang menggunakan playdough/tanah liat/pasir
g.   Permainan warna denagn berbagai media misal: krayon, cat air



BEBERAPA PEMBELAJARAN KREATIF

1.   Permainan daerah, skoci baju, genggong, sapu-sapu, rangik, kelereng dll
2. Kegiatan pembelajaran  ke dalam motorik halus: menarik garis, menggunting, menganyam, menggambar, menyusun puzle dll
3. Kreatif dalam memanfaatkan lingkungan, menjadikan sarana pembelajaran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...