Langsung ke konten utama

Tegalsari - Jetis - Ponorogo



gambar masji dan makam beberapa tahun lalu

Tegalsari Jetis Ponorogo

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Itu kata yang tak kan pernah henti dan tetap mengalir dalam diriku.
Aku bersyukur dilahirkan ke dunia.
menjadi seorang putri dari empat bersaudara dari ibuku yang mulia Masriyah, dan salah satu dari tujuh puteri dari empat belas bersaudara putera puteri bapakku Muhammmad Sulkhan Arifin. Seorang juru khitan di desa itu saat itu.
Desa Tegalsari kecamatan Jetis kabupaten Ponorogo, di situ aku dilahirkan. Masa kecil kujalani dengan damai bahagia, karena aku tinggal tepat di sebelah selatan masjid Tegalsari. Masjid yang banyak menyimpan rahasia Ilahi karena berkah seorang kyai agung, seorang wali Allah yakni Mbah Kyai Ageng Besari. Masjid dan Makam beliau saat ini termasuk salah satu destinasi wisata religi di tanah Jawa.

gambar masjid dan makam mbah Ageng sekarang 
Bapak dan mbah putri pernah menuntut ilmu di pondok pesantren itu, yang kamarnya tepat di sebelah utara masjid Tegalsari.
Saat ini di depan makam, terdapat madrasah tsanawaiyah dan aliyah Ronggowarsito.
Meski aku telah lama meninggalkan Tegalsari dan jauh berada di tanah Sumatera, namun darah dagingku telah menyatu. Keluarga dan saudaraku masih ada di sana. Hubungan baikku dengan mereka dan keramahtamahan para tetanggaku, menjadikanku merasa seakan aku masih hidup bersama di tengah mereka. Aku tak kan bisa melupakan.
Rasa rindu ingin kembali masih tumbuh berkembang. Rasa Syukurpun harus terus kulakukan.
Kemungkinan berkah doa Mbah Ageng Besari, semoga Allah melindungi dimana aku berada.
Dimanapun berada aku harus terus menuntut ilmu. mewarisi almarhum bapak dan mbah putri.


     gambar masjid dari depan

Seberapapun  setetas ilmu yang Allah berikan, harus disyukuri. Insya Allah aku akan membantu sesama dalam bentuk apapun yang dimampukan Allah. Dengan membantu, aku merasa bahagia.
Fa ahsin kama ahsanallahu ilaik...
masjid Tegalsari telah menempa masa kecilku. Tegalsari Jetis Ponorogo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...