Langsung ke konten utama

Masalah anak usia dini di TK

Kemarin, hari Jumat, tanggal 13 Januari 2014
Anak-anak murid di TKku sudah pada pulang. Tinggallah si cantik dan si ganteng. Keduanya anak yang pintar dan pemberani.
Saat si cantik melihat teman-teman pulang, ia berdiri ditepi pintu. Semntara si ganteng masih duduk di tikar sedikit bergeser di belakang si cantik.
Sementara, diriku melepas anak-anak yang lain pulang.ada yang bersalaman denganku dari kelompok kelas sebelah. Tentu saja aku tak melihat si cantik dan si ganteng walau aku aku juga duduk di pintu yang sama namun membelakangi mereka.
Tiba-tiba ku dengar tangisan memecah suasana. Tentu saja aku kaget. Tangisan itu adalah tangisan si ganteng.
Bagai tak percaya, namun ini terjadi. Karena si ganteng anak yang lincah dan pemberani. Apalagi masalah bergelut sesama kawan laki-laki. Uih! Mantap.
Tapi kali ini, kanapa nangis ya? Padahal gak ada kudengar mereka bergelut atau saling memukul.
Setelah kutanya "kenapa?", ternyata... si ganteng sedih bukan kepalang.
Ia merasa sakit. Karena keningnya didorong sedikit oleh si cantik.
"Kenapa nangisnya seperti itu?" Macam-macamlah kubujuk dan kutenangkan.
Namun ia sangat terluka. Hati dalam dada. Ia gak trima. Karena ia gak bersalah.
Kutanya si cantik, "kenapa itu kamu lakukan padanya?"
"Dia pukul pahaku, bu..." jawabnya dengan wajah polos dan yakin..
"Benarkah?" Kutanya pada si ganteng.
"Tidak. Aku duduk saja. Tadi yang di sebelah situ si azmi. Mungkin azmi yang pukul." Jawab si ganteng membela diri.
Syukur mobil sekolah belum berangkat. Masalah ini bisa saja dianggap sepele. Tapi sakit yang diderita anak tidak boleh diabaikan. Apalagi ini sakit hati.
Kudekati mobil sekolah. Kutanya azmi apa benar ia memukul si cantik. Katanya, tidak. Kutanya kawan-kawan di mobil, apa yang lain ada yang melihat? Kompak mereka menjawab tidak.
Kembali aku mendekati dua muridku yang masing-masing masih terluka.
Aku beri tahu bahwa azmi tidak memukul dan tiada kawan melihat bahwa ada yang memukul cantik.
Dalam kondisi sedih dan sakit, sebenarnya bukan kepala yang sakit, tapi hati (gak salah kok didorong keningnya), azmi masih bisa memberi pembelaan berikut. "Aku gak pukul. Mungkin tas kawan tersenggol paha, tapi tidak sengaja".
Masya Allah... itu yang aku salut. Catatan yang super. Dia tidak membalas mungkin karena si cantik perempuan. Karena cantiknya juga gak sampai hati membalas, dan dia masih bisa membela diri dengan pelajaran.
Dari situ, kucoba dekatkan mereka. Kalau seperti ini, harus bicara dengan hati.
Setelah diskusi beberapa saat, menyampaikan pada si cantik bahwa si ganteng tidak bersalah, akhirnya si cantik dengan berat hati mau minta maaf. Kuminta mereka menirukan kata-kataku.
"Maaf, ganteng..."
"Sama-sama cantik... jangan diulangi lagi ya cantik..."
Insya Allah, ganteng... eh, Si cantik diam. Tak mau jawab.
Ini nih, bibit berbahaya.
Aku harus berusaha sampai sicantik mau menyadari perbuatannya, ia tidak boleh asal menuduh dan menyakiti teman yang tidak bersalah.
Akhirnya sicantik mau mengatakan.
Seketika itu juga, si ganteng plong. Raut wajahnya segar dan sumringah.
Selesai drama arena, langsung ibu si cantik datang untuk menjemput. Kusampaikan sekilas info. Daaaaan...
Alhamdulillah.... peristiwa telah usai.
Semoga mengandung hikmah, terutama bagi mereka berdua untuk hidup kedepan. Amiiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...