Langsung ke konten utama

(PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA PADA ANAK USIA DINI MELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA KELOMPOK B1 TK PLUS MA’ARIF BALAI-BALAI PADANG PANJANG BARAT



            Bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi, mengungkapkan pikiran, menyatakan kehendak, menyampaikan pendapat, saling berbagi pengalaman, saling belajar satu sama lain, serta alat untuk menambah ilmu pengetahuan. Bila setiap warga Negara terampil berbahasa, maka komunikasi antar warga akan berlagsung dengan baik.
Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang harus diberikan di setiap jenjang pendidikan termasuk  pendidikan anak usia dini baik  nonformal maupun formal yaitu Taman Kanak-kanak (TK). Bahasa ibu (bahasa daerah) sangat berpengaruh pada perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, untuk itu usaha membimbing kearah penggunaan bahasa Indonesia yang baik hendaknya lebih ditekankan dari pada mengajarkan bahasa asing.
Bahasa termasuk salah satu kecerdasan dari sekian kecerdasan ganda yang harus dikembangkan pada anak usia dini. Jika sejak dini seluruh kemampuan otak anak dirangsang untuk  dilatih termasuk kemampuan berbahasa, maka anak akan berkembang dengan baik. Walau nanti menginjak dewasa sebagian orang mungkin memiliki satu atau dua kecerdasan yang benar-benar dikembangkan dengan baik.

Disamping itu bahasa juga merupakan keterampilan motorik. Selain melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara yang berbeda, juga mempunyai aspek mental yakni kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan.
            Perkembangan bahasa anak pada dasarnya sangat tergantung pada orang dewasa yang ada disekitarnya dalam tahun-tahun pertama hidupnya terutama orang tua. Orang tua perlu mendorong anaknya mengucapkan kata-kata. Mereka harus mengajaknya bicara, penuh kasih sayang, lemah lembut, tersenyum dan memujinya bila ia mengucapkan kata-kata secara betul. Dalam lingkungan demikian perbendaharaan kata-kata bagi anak tumbuh dan kemampuannya menggunakan kalimat akan berkembang. Kemamapuan ini akan sangat berguna karena menjadi dasar yang kuat untuk kecakapan hidup dan mendapatkan pengetahuan lebih banyak dimasa hidupnya.
Proses mambantu anak belajar berkomunikasi sesungguhnya memerlukan waktu yang panjang, namun menggembirakan. Menurut Dr. Hess, kata-kata yang diucapkn ibu secara pendek-pendek, singkat, memberikan informasi secara umum saja, berarti memasung keinginan anak untuk belajar. Tetapi ibu yang lebih banyak bicara, menerangkan tingkah laku anak dengan lingkungannya, dan akibatnya yang mungin timbul karena tingkah laku itu, berarti memberikan pelajaran kepada anaknya untuk memecahkan persoalan. Oleh karena itu, merupakan kesalahan jika kita terlalu mengecilkan kemampuan dan keinginan anak untuk mengetahui hal baru bagi mereka.
            Para ilmuwan telah mempelajari bahwa otak lebih dahulu merespon semua yang didengar. Mereka menyimpulkan bahwa para bayi lebih banyak merespons apa yang didengar  ketimbang merespons apa yang dilihat. Bayi memiliki rasa ingin mendengarkan yang tinggi. Oleh karena itu orang tua bisa memaksimalkan kesempatan ini untuk mengajarkan sesuatu dengan sering memperdengarkan pembicaraan, kalimat yang bermanfaat  kepada bayi-bayi mereka. Dalam perkembangannya, tidak semua bayi mendapatkan kesempatan mendengarkan dengan baik. Karena kesibukan dan kesempatan orang tua, maka tidak semua anak pula memiliki banyak perbendaharaan kata dan keberanian untuk mengungkapkan pikirannya.
            Kata menduduki posisi penting dalam sistem bahasa. Pemakaian kata merupakan hal yang mendasar dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu penguasaan kosakata seseorang sangat menentukan keberhasilannya dalam berkomunikasi. Anak tidak harus mengahafal sejumlah kata, tetapi yang terpenting adalah dapat menggunakannya di  dalam kalimat.
Program pendidikan anak usia dini direncanakan, dikembangkan, dikelola dan dievaluasi dengan model dan pendekatan yang sangat khusus dengan karakteristik anak. Dengan sifat anak yang unik, energik, egosentris, dan sebagainya tentu memiliki cara dan gaya belajar yang beragam pula. Guru dituntut untuk aktif dan kreatif memanfaatkan media yang ada bahkan mungkin menambah media sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak.
Berdasarkan pengalaman penulis mengajar di TK Plus Ma’arif Balai-balai, menemukan adanya permasalahan dalam pembelajaran berbahasa, yaitu kurangnya kemampuan siswa untuk memusatkan pendengaran, yang berakibat sulitnya siswa berkomunikasi dengan baik serta kurang memahami bahasa yang disampaikan guru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...