Langsung ke konten utama

mengasah kecerdasan emosi, intelektual dan spiritual anak usia dini


Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, yang akan terus berbekas sampai usia tua. Sedangkan  belajar di usia  dewasa ibarat menulis diatas air, yang akan cepat sirna dan tidak akan berbekas. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Kegagalan penanaman karakter pada seseorang sejak usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasa. Anak-anak yang berkualitas adalah generasi harapan  bangsa dalam mencapai  cita-cita Bangsa dan Negara.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi cukup pesat pada dekade terakhir ini. Berbagai penilitian dan penemuan banyak dikemukakan di segala bidang, baik bidang kesehatan, ekonomi, dan sebagainya.Hal ini erat kaitannya dengan perkembangan dan pembaharuan pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini sampai  perguruan tinggi.
Pendidikan merupakan suatu proses yang hasilnya baru bisa dirasakan setelah berlangsung beberapa tahun kemudian, bahkan bisa puluhan atau ratusan tahun. Anak didik hari ini adalah manusia dewasa dan pemimpin dimasa mendatang. Kenyataan yang terjadi di Indonesia sekarang, bahwa selama ini anak hanya dianggap sebagai objek, sasaran dari pendidikan tersebut. Sehingga timbullah kekerdilan berfikir, tidak kreatif, kekosongan hati, kegersangan jiwa dan hanya berpengetahuan tapi  kurang menunjukkan sikap dan perilaku terpuji.
Pertumbuhan media massa baik cetak maupun elektronik cukup membanggakan namun juga memprihatinkan. Dampak positif dan negatifnya sangat berpengaruh kepada para generasi muda terutama anak-anak yang belum sanggup memilah dan  memilih mana yang baik dan buruk. Apalagi anak-anak yang usianya masih di bawah lima tahun sedang kedua orang tuanya sama-sama bertugas dari pagi sampai malam hari.
Belajar sejak usia dini sebagai dasar untuk kehidupannya kelak. Anak belajar melalui   apa yang ia lihat, ia dengar, ia sentuh, ia baui, ia kecap dan ia lakukan. Dengan suri teladan yang baik, kasih sayang dan perhatian yang cukup, anak cenderung menunjukkan hasil yang positif baik dalam ilmu pengetahuan, sikap dan prilaku, sebagai individu maupun makhluk sosial.
Guru sebagai teladan, terutama di Taman Kanak-kanak sangat srategis untuk membina jiwa dan kepribadian anak. Untuk itu sangat diharapkan seorang guru Taman Kanak-kanak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk dapat mengenal anak didik dan mengetahui apa sebenarnya yang mereka punya dan yang mereka butuhkan. Anak didik tidak sekedar diberi ilmu pengetahuan (kognitif) semata, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membangkitkan dan menumbuhkan benih-benih ke-Tuhanan, nilai-nilai baik dan buruk (spiritual) sebagai dasar pembentukan sikap perilaku bersosial (emosi). Dengan berbagai teknik dan metode yang menyenangkan, proses pembelajaran di TK dapat dilakukan
 Akan tetapi guru saja tidak akan sanggup untuk membentuk pribadi anak sebagai modal budaya bangsa. Untuk itu perlu usaha bersama antara guru, orang tua, pemerintah dan mastarakat dalam mencapai cita-cita bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...