Kitab Diri : Kitab yang Bergerak di Hati Selalu bersyukur dan berbahagia bukan karena hidup selalu ramah, melainkan karena hati telah belajar menerima sebagai bentuk tertinggi dari iman. Syukur bukan reaksi setelah memperoleh, tetapi kesadaran sebelum menilai. Ia adalah mata yang melihat bahwa apa pun yang hadir datang bukan tanpa izin, bukan tanpa maksud, bukan tanpa kasih. Dalam menjalankan setiap peran yang hadir pada diri kita sebagai anak, orang tua, sahabat, pekerja, atau pejalan sunyi kita tidak sedang memainkan sandiwara, melainkan sedang dihadirkan. Dan setiap peran adalah amanah, bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dijalani dengan penuh hadir. Setiap langkah kaki yang kita ayunkan di bumi ini, sesungguhnya adalah jejak dzikir. Jika langkah itu diiringi prasangka baik, ia menjadi keberkahan yang berjalan. Bukan tanah yang memberkahi langkah kita, tetapi kesadaran dalam melangkah yang membuat tanah pun ikut bersujud. Maka jangan biarkan su’udzhan bersemayam di hati bukan hany...