Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Putriku Kembali

Tak tahan lagi... seorang ibu trenyuh, haru, dan terpaku. Bagai menemukan mutiara yang hilang. Putri ayu yang cantik jelita, penyejuk dua mata, kini telah kembali... sang ibu pun memainkan jari jemarinya sambil menguntai mutiara kata; “ANDAI DUNIA TAHU ISI HATIKU SAAT INI” ... 31 jan 2014

Teman lama

Alhamdulillah... dibalik nyaris putus asa krn ksibukan dunia, marasa diri hina tiada harga, ALLAH kirimkan saudara. Masih punya asa.  Teman sekian puluh tahun yang lalu Kakak saat diniyyah putri dulu Tiada sengaja  Kakak sakit menyapaku Tanda gerakan dari Tuhanku Dalam hening sepi dini hari Siapalah diri ini Apalah yang kumiliki Engkau hadir begitu dekat Engkau pemilik segalanya Penyakit dari sisiMu Kesehatan milikMu Sembuhkan saudaraku Ampuni dosanya Kuatkan imannya Kembalikan kesehatannya Sabar atas penyakit Syukur dalam tafakkur Masih banyak nikmat  Semoga semua kembali selamat. Amiin... 31 jan 2017

senangkan diri sendiri

Hidup ini berproses. Setiap diri memiliki kelebihan dan kekurangan tanpa harus merengek minta diperhatikan orang lain.

Mengelola emosi

https://www.facebook.com/share/p/1CEkzTReEE/ Mnegelola emosi sejarah ulama

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...

Hakekat Sepi dalam Rumah Tangga

Dalam relasi yang bertumbuh, sepi sering disalahpahami sebagai jarak yang berbahaya. Banyak orang mengira bahwa ketika pasangannya merasa sepi, itu berarti cinta berkurang atau perhatian menghilang. Padahal sepi tidak selalu menunjuk ke arah hubungan, sering kali ia menunjuk ke dalam diri. Sepi adalah bahasa batin yang muncul saat jiwa sedang memproses, menata ulang, atau mencari makna yang lebih dalam dari keberadaannya sendiri. Pasangan yang matang memahami bahwa tidak semua kesunyian perlu ditakuti, karena tidak semua kesunyian ingin ditinggalkan. Secara psikologis, kedewasaan emosional membuat seseorang mampu membedakan antara kebutuhan akan kebersamaan dan kebutuhan akan ruang batin. Secara sosial, kita sering diajarkan bahwa pasangan harus selalu saling mengisi, saling menghibur, dan saling hadir setiap waktu. Pola pikir ini tanpa sadar menciptakan ketergantungan emosional yang rapuh. Pasangan yang matang justru berdiri di atas pemahaman bahwa dua jiwa yan...

Kitab Diri

Kitab Diri : Kitab yang Bergerak di Hati Selalu bersyukur dan berbahagia bukan karena hidup selalu ramah, melainkan karena hati telah belajar menerima sebagai bentuk tertinggi dari iman. Syukur bukan reaksi setelah memperoleh, tetapi kesadaran sebelum menilai. Ia adalah mata yang melihat bahwa apa pun yang hadir datang bukan tanpa izin, bukan tanpa maksud, bukan tanpa kasih. Dalam menjalankan setiap peran yang hadir pada diri kita sebagai anak, orang tua, sahabat, pekerja, atau pejalan sunyi kita tidak sedang memainkan sandiwara, melainkan sedang dihadirkan. Dan setiap peran adalah amanah, bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dijalani dengan penuh hadir. Setiap langkah kaki yang kita ayunkan di bumi ini, sesungguhnya adalah jejak dzikir. Jika langkah itu diiringi prasangka baik, ia menjadi keberkahan yang berjalan. Bukan tanah yang memberkahi langkah kita, tetapi kesadaran dalam melangkah yang membuat tanah pun ikut bersujud. Maka jangan biarkan su’udzhan bersemayam di hati bukan hany...