Ibarat hati hanya segelas air,
Masuk sedikit garam, berubah menjadi asin. Masuk sedikit gula, berubah menjadi manis. Masuk setitik nila, berubah warna.
Namun, jika seluas telaga,
Masuk garam, gak berubah rasa. Masuk gula, tetap adanya. Masuk darah, gak berubah warna. Masuk kotoran, ranting, besi, bahkan bangkai sekalipun, air telaga tetap segar....
Jernih dan menyejukkan...
Miliki hati bagai telaga.....
Dihina, dicaci, dipuji, difitnah sekalipun....
Tetap bagai telaga.... oooh... indahnya....
CERITA AKU ANAK HEBAT Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum! Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....
Komentar
Posting Komentar