Kali ini Sri benar benar tak mamapu memendam rasa. Campu baur. Antara syukur yang luar biasa karena besarnya nikmat ALLAH yang ia peroleh.
Anaknya dipanggil memenuhi ibadah haji. Apalagi idul adha saat ini tepat hari Jumat.
Ia pesabkan kepada anaknya agar memaafka semua kesalahan orang tua, nenek kakek dari kedua orang tua, adek-adek dan saudaranya.
Si Sri mengingatkan anaknya untuk berdoa baginya agar ALLAH selalu memberi petunjuk dan memberi kekuatan jiwa raganya.
Maklum usia semakin tua. Kekuatan Sri semakin hari semakin menurun. Apalagi melihat orang yang disayangi dan dijunjung tinggi semakin menurun kekuatannya.
Sri tak tahu lagi kemana harus berbagi. Sebab ia sebenarnya tahu arah mana yang harus ia tempuh. Hanya saat hatinya gundah, Sri pun seperti lupa arah.
Sri bersyukur, berdoa dan kini hanya bisa pasrah.
Drama cinta yang disaksikankan sungguh sangat memilukan.
Sepasang merpati sesang dirundung malang. Hidup pas pasan. Namun tiada hendak berbaikan.
Saat mau berangkat ke masjid, sang permaisuri berharap bersalaman. Sang pangeranpub menjawab kesinilah.
Saat permaisuri berdiri dan mendekati, sang pangeran telah pergi dan mengunci pintu.
Permaisuri pun mengejarnya. Sambil mengintio membuka kain pintu jendela kaca. Ia tak dapat mengejarnya. Karena sang pangaran dari luar telah mengunci pintunya.
Ia menjerit tak tertolong. Betapa sampai hati sang pangeran padanya.
Sungguh pilu drama seri yang Sri saksikan subuh itu....
CERITA AKU ANAK HEBAT Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum! Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....
Komentar
Posting Komentar