Langsung ke konten utama

Kekuatan Tuhan atau gerakan syetan?

Tuhan atau syetan
Tuhan bagi umat Islam bernama Allah. Dzat yang maha pengasih dan penyayang. Sayangnya tak terbilang, tak pernah pilih kasih.
Dzat yang tak bisa dilihat namun benar adanya, dan memiliki kekuatan.
Demikian juga dengan syetan. Makhluk yang diciptakan Allah, bersifat jahat dan durhaka dalam bentuk apapun. Syetan juga memiliki kekuatan, yang berasal dari Allah, atas izin Allah.
Namun bagi anak usia dini, tentu harus lebih berhati-hati dalam mengenalkan Allah dan syetan. Tentang teknik mengenalkan Allah dan syetan bagi anak usia dini, mungkin akan saya bahas dalam kesempatan lain.
Dalam tulisan ini saya hanya akan berbagi, berasal dari cerita anak murid di sekolah.

Saat mentari pagi bersinar terang, rumput hijau masih dihiasi butiran embun, pohon rindang di depan sekolah melambai ditiup angin, udara segar dan bersahabat.
Anak-anak di sekolahku mulai berdatangan. Salah satunya bernama Atiah. Nama yang kusamarkan.
Atiyah, seorang anak di TK tempat aku bertugas, namun kelompok B3. Sedang aku mengajar di kelompok B1. Atiyah berumur lebih kurang 5 tahun. Dia anak periang, sangat lincah. Suka sekali bercerita. Rating percaya dirinya di atas rata-rata teman seusianya.
Hampir setiap pagi, selalu ada cerita yang disampaikan kepada ibu guru. Tak peduli ibu guru kelasnya, maupun dari kelas lain. Bahkan terkadang sesudah diceritakan kepada 1 guru, diceritakan kembali kepada guru yang lain.
Pagi itu ia cerita langsung kepadaku.
"Ibu! Ibu! Kemarin, pintu rumah atiyah bergerak sendiri.
Aku menanggapinya, "masya Allah... benar sayang?
"Iya. Waktu atiyah main sama adik. Ada mama juga."
"Oh iya?! Trus gimana? Siapa yang buka?"
Ia pun dengan semangat menjawab, "syetan".
"Bukan sayang... mungkin angin yang berhembus. Allah mengirim angin. Lalu anginnya meniup pintu rumah Atiyah... Allah yang hebat. Bisa mengirim angin. Anginnya bisa menggerakkan pintu...."
"Bukan. Syetan. Syetan yang menggerakkan pintu. Kata mama juga syetan."
"Astaghfirullah..."
Langsung aku terkejut luar biasa setelah mendengar kata mamanya juga demikian. Karena berulang kali ia mengatakan syetan. Bertambah yakinlah ia, setelah mendengar pendapat mamanya.
Aku terdiam sejenak. Lalu berfikir.  Ini tidak boleh dibiarkan. Ini bukan main-main. Jika dianggap sepele, ya memang tidak terasa apa-apa. Tapi ini masalah akidah. Masalah kebanaran. Bagiaman generasi umat Islam nanti?
Bagaimana menanamkan akidah yang lurus kepada anak sejak usia dini.
Walau ibu guru telah berusaha sehati-hati mungkin mengenalkan Allah, Tuhan semesta alam kepada anak, namun jika guru utama dan pertama yakni ibunya, mamanya, bundanya, tidak bertanggung jawab dan tidak sejalan dengan ibu guru di sekolah, maka akan berakibat fatal.
Mengapa demikian? Pada hal-hal tertentu, guru sebagai idola bagi anak TK. Bahkan sebagian anak menganggap guru bagai dewa. Apa kata guru, lebih dipercaya dan menjadi panutan, daripada pendapat orang tua di rumah. Akan tetapi, karena saat kejadian terjadi di depan mata, saat itu pula anak usia dini akan lebih kuat mengingat dan meyakininya. Cerita Atiyah tadi terjadi saat anak berada di rumah, ibu sebagai guru utamanya menanamkan pemahaman yang sekilas sepele, namun ternyata hal yang fondamental dalam kehidupan anak. Yaitu, akidah.
Jika akidah seperti itu dibiarkan, bagaimana jika ada kejadian-kejadian yang lain? Siapa yang akan dianggap kuat oleh anak? Siapa yang akan dianggap pengasih penyayang, siapa yang akan diyakini sebagai Tuhan oleh anak?
Kesimpulan, siapa yang bertanggung jawab tentang akidah anak? Siapa yang menggerakkan pintu di rumah Atiyah? ALLAH, atau  SYETAN?
Atiya belum bisa dibilang salah. Atiyah belum tahu.
ersiapan bagi setiap calon ibu dalam menanamkan akidah yang lurus kepada generasi emas.
Mari kita renungkan.... salam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita AKU ANAK HEBAT

 CERITA AKU ANAK HEBAT             Namaku Ahmad, aku anak laki-laki berumur 6 tahun. Rambutku lurus, warna kulitku kuning langsat. Aku sekolah di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa. Aku tinggal bersama nenek dan paman di desa Suka Damai. Wuuushsh! Wuuushsh! Suara angin meniup pohon-pohon tinggi di dekat rumahku. Gemericik suara air mengalir dari sawah ke banda samping rumahku. Jalanan sepi, siang itu panas sekali. Aku pulang sekolah. “Assalamualaikum!  Tok! Tok! Tok! Nek, Nenek! Ahmad datang,nek.” “Walaikumussalam, cucuku. Alhamdulillah, kamu sudah datang, nak.” Akupun langsung meletakkkan sepatu dan tas pada tempatnya. Tak lupa ganti pakaian lalu cuci tangan dan kaki. Nenek mengajarkanku agar cuci tangan dan kaki setiap pulang sekolah agar debu-debu dan kuman yang menempel, bersih dari anggota tubuh kita. Seperti biasa, nenek langsung mengajakku makan di meja makan. “Ayo, nak! Kita makan dulu....

PENDEKATAN HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK

                                                                                     PENDEKATAN  HOLISTIK DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI di TK Undang-Undang Nomor 20 tahun 3003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa, “Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Mendidik anak usia dini adalah mempersiapkan generasi. Melatih anak usia dini adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang dapat melaksanakan hablun minallah dan hablun minannas dengan...

MENDHEM JERU MIKUL DHUWUR

Mendhem jeru mikul duwur adalah pribahasa bahasa Jawa. Pribahasa tersebut memiliki makna terkait berbakti kepada orang tua. Mendhem jeru berasal dari dua kata yaitu mendhem yang artinya mengubur, dan jeru artinya dalam sekali. Arti umumnya adalah mengubur dalam-dalam hingga tak ada yang terlihat. Adapun maksud dari pribahasa tersebut adalah seorang anak jika mendapati kekurangan, kesalahan atau aib dari orang tuanya atau ayah ibunya, hendaklah menyimpan dan menyembunyikan sebaik mungkin. Agar tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai karena dinasehati orang tua menimbulkan rasa tidak suka, muncul rasa kesal. Atau karena kondisi ekonomi orang tua ia mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, kontrak rumah berpindah-pindah, atau memiliki rumah tapi sangat sederhana, malu dengan tetangga dan teman. Karena tekanan ekonomi dan sosial menjadikan emosi orang tua tidak stabil, akhirnya menimbulkan sakit hati atau kebencian anak kepada orang tua. Rasa benci dan sakit hati...